Taman Nasinal di hulu Aek Barumun dan Aek Sosa

Wilayah Kab. Padang Lawas di aliri dua sungai besar yaitu Aek Barumun dan Aek Sosa. Kedua sungai tersebut berhulu di sebelah selatan dan barat Kab. Padang Lawas tepatnya sepanjang daerah Hapung, Siraisan dan Sosopan. Pada saat ini kondisi hutan di daerah tsb sudah mengalami kerusakan yang cukup parah. Hal ini jelas kita lihat apabila kita memandang dari jauh ke daerah tsb yang tampak adalah bukit yang sudah gundul disana-sini. Kerusakan ini terjadi karena adanya penebangan hutan yang dilakukan oleh masyarakat sekitarnya yang dibantu para cukong kayu ditambah lagi lemahnya pengawasan aparat keamanan. Selama ini kita tidak meyadarinya, kalau dibiarkan terus-menerus maka akan terjadi kerusakan hutan total pada daerah tsb sehingga keseimbangan alamnya akan terganggu. Kalau Pemda Padang Lawas tidak bertindak cepat maka daerah tersebut dapat juga disulap para pengusaha menjadi lahan kelapa sawit. Jika hal ini terjadi khususnya di daerah hulu kedua sungai tsb maka berpotensi besar mendatangkan bencana alam besar berupa tanah longsor dan banjir pada musim hujan dan kekeringan hebat pada musim kemarau. Masyarakat di sepanjang daerah aliran kedua sungai itu akan sangat menderita. Lahan pertanian secara langsung maupun tidak langsung akan terganggu juga. Sepertinya kelihatan sepele tetapi kalau tidak ditanggulangi mulai sekarang, mari kita bayangkan kondisi hutan di daerah tsb dan kondisi masyarakat daerah aliran sungai untuk beberapa tahun mendatang. Untuk itu perlu diupayakan agar kedua daerah hulu sungai itu dijaga kelestarian alamnya dengan cara menetapkannya menjadi daerah konservasi berupa taman nasional. Bercermin pada Kab. Madina yang berhasil mewujudkan Taman Nasional Batang Gadis dalam beberapa tahun setelah mekar dari Tapsel maka untuk mewujudkan taman nasional di hulu Aek Barumun dan Aek Sosa bukanlah hal yang mustahil. Dibutuhkan proaktif Pemda Padang Lawas dan DPRD untuk mewujudkan hal tsb. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. (penulis: Pranata-Putra Barumun/ Alumni Biologi Universitas Andalas/B 10 UA)

9 Komentar

  1. mamas86 said,

    25 Januari 2009 pada 01:40

    Wah, jadi tau nih… Nice article… Keep blogging…!!!

  2. 25 Januari 2009 pada 16:50

    Benar, dan kita semua sepakat hutan memiliki multi fungsi, termasuk fungsi ekonomis, fungsi sosial, bahkan fungsi politik kita tidak sadar terdapat dalam keberadaan hutan, namun disamping itu semua tentunya yang utama adalah fungsi ekologis yakni penyangga eksistensi flora dan fauna atau segala sesuatu potensi yang terdapat didalam hutan untuk keseimbangan alam.
    Begitu juga dengan keberadaan hutan Padang Lawas hari ini dengan kondisi cukup memprihatinkan, areal hutan sudah sangat jauh berkurang, dari tahun ke tahun terus mengalami defortasi, baik yang dilakukan oleh para mafia kayu yang terus bergentayangan mengintai dan merambah hutan Padang Lawas, pengusaha terus menegejar para tokoh adat, tokoh masyarakat, pimpinan organisasi, dan pemerintah sebagai pintu masuk untuk mengusai hutan. Pun masyarakat menikmati keberadaan tersebut dengan berbagai alasan dan kepentingan, termasuk alasan ekonomi sehingga seakan memaksakan situasi untuk melegitimasi alasan tersebut.
    Termasuk hari ini, berdasarkan informasi yang berkembang di masyarakat dan begitu meyakinkan tentang rencana pembukaan areal perkebunan di hutan Desa Siolip, Kec. Barumun, seluas 14.000 ha, oleh perusahaan yang dipimpin DL Sitorus menurut isu yang berkembang, dan melibatkan banyak pihak termasuk pemerintah Kabupaten Padang Lawas dan ini saya pikir perlu disikapi sebagai bagian dari proses pendidikan lingkungan dan wujud kepedulian kita terhadap kelestarian hutan yang akan kita wariskan kepada generasi-generasi berikutnya.
    Oleh karena itu, sebelum kita melangkah pada gagasan pembentukan Taman Nasional di wilayah Padang Lawas, baiknya kita sama-sama menyikapi persoalan kerusakan lingkungan hari ini yang cukup mengancam kegiatan pertanian (sehari-hari) masyarakat, dan perlunya pendidikan dan pembangunan kesadaran lingkungan dan pelestarian hutan di level grass root sehingga tidak mudah dibodoh-bodohi para kapitalis-kapitalis lokal dengan berbagai macam argumentasi dan kepentingan. Dengan demikian hutan secara bertahap terselamatkan dan rencana pembentukan Taman Nasional dapat terealisasi dengan dukungan dan tanpa hambatan yang berarti dan sebagai bagian dari tujuan yang bersifat ideologis dalam perjuangan pelestarian hutan Padang Lawas. Dan memang sudah Saatnya Melestarikan Hutan Padang Lawas, setelah sekian lama sesuka hati memanfaatkan hutan tanpa pertimbangan yang visioner dan keberlangsungan hidup hewan dan kekayaan yang terdapat didalamnya.
    Salam Lestari, dari anak bangsa yang peduli lingkungan, pecinta alam……(Ansor Harahap/ Alumni USU)

  3. oppung said,

    25 Januari 2009 pada 18:16

    Yang lebih parah lagi perusakan ekosistim sungai Barumun, pengambilan batu dan pasir secara mekanis oleh beberapa Perusahaan kontraktor, ditambah ulah segelintir masyarakat yang mengambil ikan dengan menggunakan racun, listrik dan potasium, secara perlahan akan menghabiskan ikan dan udang, kalau dahulu untuk mencari ikan adalah sangat mudahnya ( Ikan Mera aek barumun sekarang sudah hampir tak ada lagi ), tetapi sekarang sangatlah susahnya.Semoga Pemda Palas yang akan dilantik memberikan Perhatiannya untuk Pelestarian Sungai Barumun.

  4. Eprat said,

    25 Januari 2009 pada 20:01

    Mari kita lestarikan kedua sungai tersebut ditambah lagi dengan Aek Batang Lubu Sutam. Karena ketiga sungai tersebut merupakan salah satu simbol dari Kab. Padang Lawas. Apabila dikelola dengan baik akan mendatangkan manfaat tetapi apabila diSIA-SIAkan akan mendatangkan bencana besar. Wacana pembentukan taman nasional merupakan ide brilian yang selama ini kita tidak sadari atau tidak terpikirkan sama sekali. Memang selama ini kawasan hutan Palas dan Paluta seolah-olah tidak bertuan dan dirambah semena-mena, contoh nyata hutan lindung register 40 disulap menjadi lahan kelapa sawit.

  5. forumpadanglawas said,

    25 Januari 2009 pada 21:00

    Jangan sampailah riwayat Aek Barumun dan Sosa seperti riwayatnya Bengawan Solo dimana airnya dapat meluap sampai jauh….tolong pak bupati lestarikan Aek Barumun dan Sosa kebanggaan kita.

  6. forumpadanglawas said,

    25 Januari 2009 pada 21:57

    Untuk menjaga kelestarian hutan di Palas ini di perlukan sikap pro aktif dari seluruh lapisan masyarakat yg ada bkn hanya dari pihak instansi terkait.
    Untuk dinas kehutanan tolonglah di lakukan penyuluhan ke lapisan masyarakat mengenai dampak dari penebangan liar guna meningkatkan kesadaran masyarakat akan dampak dari penebangan tsb.
    Kalo blh usul saya cuma bilang ama bapak Bupati bagaimana kalo aek siraisan itu di jadikan objek wisata kayaknya mantap tuch!!
    Buat pranata saya mo ngucapin ma kasih atas tulisannya.

  7. Darwin Harahap-Tapiannauli said,

    30 Januari 2009 pada 11:24

    Banyak komentar yang muncul seiring dengan terbentuknya Kabupaten Padanglawas, terutama kami menyimak tentang yang menyoroti soal lingkungan, dimana kerusakan hutan Padanglawas sangat menghawatirkan. Untuk itu kami ucapkan terima kasih karena kebetulan kampung kami berada persis dipinggir sungai Barumun yaitu desa Tapiannauli kec.Ulu Barumun, dimana kalau misalnya terjadi banjir bandang sebagai salah satu akibat dari rusaknya hutan dihulu sungai Barumun,maka kampung kamilah mungkin yang duluan tersapu air bah,tapi mudah-mudahan janganlah sampai begitu nauzubillah.
    Kalau dilihat dari peta citra satelit maka sebagian besar daerah pemukiman di Padanglawas berada di lembah yang berupa celah sempit yaitu diantara bukit barisan dan dolok simartolu sebagai anak Bukit barisan yang membujur dari Sosopan sampai ke daerah binanga.Jadi kalau dilihat kontur daerah Padanglawas terutama mulai Barumun sampai Sosopan adalah sangat rawan bencana kalau kelestarian hutannga tidak dipelihara. Peristiwa yang terjadi seperti di Jawa bukan tidak mungkin akan terjadi di Padanglawas kalau eksploitasi alam tidak terkontrol dan tidak terukur.
    Untuk itu kami berharap dimana pengelolaan sumber daya alamnya haruslah searif mungkin dan tidak latah. Lembah Barumun dan Sosa adalah derah yang sangat subur dan itu harus dikelola dengan baik, artinga setiap jengkal tanah subur itu harus diusahakan mempunya nilai ekonomis.Perlu kiranya para pengambil keputusan di Padanglawas untuk mengacu ke sistem pengelolaan Sumber Daya Alam di Jepang. Jadi harus diutamakan intensifikasi ketimbang ekstensifikasi apalagi eksploitasi besar-besaran, karena hal itu bisa jadi akan menimbulkan petaka dimasa-masa datang.
    Kami tidak bermaksud untuk menggurui tapi hanya sekedar menyampaikan harapan dari seorang anak desa yang tinggal dirantau. Untuk itu kami mohon maaf sebelumnya, terima kasih, Wassalam.

  8. Ansor Harahap said,

    1 Februari 2009 pada 12:51

    Kepada bung Darwin Harahap, Salam lestari…….
    Persoalan lingkungan adalah merupakan persoalan menyangkut hajat hidup : manusia, binatang, dan tumbuhan, serta segala sesuatu yang terdapat di dalamnya. Untuk itu, saya salah satu anak desa yang juga turut memberikan apresiasi karena saya menilai bung termasuk orang yang tercerahkan dengan pentingnya keberadaan lingkungan dimana sangat banyak mengandung makna folosofis dalam kehidupan. Oleh karena itu, harapannya pengembangan wacana ini akan menjadi sebuah pencerahan bagi kita semua, bahkan dapat menjadi sebuah metamorfosis yang dapat mendapat membangkitkan gairah kesadaran lingkungan kita ditengah keringnya kesadaran publik terhadap pelestarian lingkungan yang orientativ. Dan mudah-mudahan ini akan menjadi bahan kelak kita mengorganisir secara terencana dan terukur dalam aktualisasi masyarakat Padang Lawas untuk pelestarian lingkungan, khususnya hutan. Pada umumnya masyarakat belum tahu kalau satu pohon itu berarti untuk kehidupan. Belum tahu kalau pohon-pohn tersebut memiliki makna kemanusiaan. Kekeringan yang melanda ratusan hektar persawahan, daerah aliran sungai yang semakin mengecil hingga tidak mampu lagi mengairi persawahan, mulai terasa sulitnya mendapatkan air bersih. Adalah akibat dari aktifitas yang semakin jauh dari agenda pelestarian, termasuk penanaman sawit secara massal yang hanya dengan pertimbangan nilai ekonominya saja yang dianggap satu-satunya jalan keluar menjawab berbagai persoalan ekonomi dan ‘stok’ masa depan keluarga tanpa seikitpun mempertimbangan nilai kehidupan yang lebih substantiv dengan menghilangkan keberlangsungan hidup flora dan fauna yang juga makhluk hidup yang dapat dijadikan sebuah ‘aset’ yang lebih bernilai. Belum tahu dan faham kalau hutan itu adalah bagian dari masa depan. Kini kita dihadapkan kembali kepada sebuah persoalan yang menyangkut masa depan hutan yang merupakan masa depan kita yakni pembukaan lahan hutan seluas sekitar 14.000 ha di kawasan hutan Desa Siolip, Kec. Barumun yang melibatkan banyak pihak termasuk masyarakat sendiri, pun juga saya yakin adalah alasan ekonomi, yang menurut informasinya pembukaan lahan ini di sponsori anak usaha ‘raja hutan’ DL Sitorus, dengan pintu kaki tangan-kaki tanggannya baik di instansi pemerintahan maupun di tengah-tengah masyarakat. Termasuk juga Pejabat teras di Pemerintah Kabupaten Padang Lawas yang menurut saya perlu diminta pertanggungjawabannya terhadap agenda pelestarian dan penyelematan hutan, disaat agenda nasional dan global semarak penyelamatan hutan,di saat ini pula Pemkab Padang Lawas turut beraksi pemusnahan hutan. Apakah ini jaln satu-satunya, tapi saya yakin tidak. Oleh karena itu saya menilai aktifitas ini tidak lebih dari aktifitas sebuah ‘keserakahan’ berjamaah yang sudah terjangkit dengan pikiran ‘kapitalis’, pa lagi ‘menggandeng’ orangnya pelaku penjarah hutan, bila tidak dengan alasan yang logis dan terukur sebagai sebuah kebutuhuan mendasar dengan keadaan ekonomi masyarakat yang dapat mengancam keberlangsungan hidup masyarakat di sekitar wilayah tersebut.
    Keselamatan Hutan adalah Tanggungjawab Kita Bersama…Salam Cinta Alam..Gerakan Pendidikan Lingkungan kepada masyarakat harus sejalan dengan ‘pembantaian’ pelaku illegal logging, dan mafia hutan baik yang terus bergentayangan di tengah-tengah masyarakat maupun (pejabat) yang tersembunyi di Pemkab Padang Lawas….

  9. 10 Mei 2009 pada 13:10

    aek sosa dan aek barumun merupakan sumber kehidupan dan penghidupan masarakat barumun untuk itu saya himbau masyarakat agar :

    a. tidak mengambil ikan dengan racun,air tuba,sturum karena bukan mematikan ikan yg mau diambil saja tapi metikan seluruh satwa air mulai dari telu,anak dan induk.

    b. tidak menebang pohon sembarangan anda menebang pohon satu tanpa diganti berarti anda mematikan harapan generasi sepanjang masa mungkin generasiku sepuluh tahun mendatang hanya melihat parit bekas sungai barumu dan sosa.

    c. kalau ada pembalak liar laporkan langsung peresiden di jln merdeka barat jakarta pusat, tembusan menteri lingkungan hidup di jakarta, kapolda sumut di medan dan kapolres tapasel di sidimpuan. apabila ada keterlibatan polisi laporkan ke irjen mabes polri tembusan propam polda sumut di medan dan propam tapsel di padangsidimpuan tunjukan poto kejadian atau bukti yg jelas atau nama pelaku dengan jelas pasti di proses


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: