7 Desa di Batang Lubu Sutam gelap gulita

Alangkah mengecewakannya pelayanan yang diberikan oleh pihak PT PLN kepada masyarakat 7 Desa di Kecamatan Batang Lubu Sutam. Sampai dengan tulisan ini diterbitkan (Selasa, 3 Maret 2009) sudah 9 hari masyarakatnya hidup tanpa penerangan atau dengan kata lain, MATI LAMPU.
Setiap kali PT PLN menaikkan Tarif Dasar Listrik, selalu mengatas namakan dan beralasan untuk meningkatkan pelayanan. Namun apa yang terjadi, pemadaman selalu saja terjadi. Bahkan bukan cuma itu, voltage tegangan yang tidak normal sering kali menyebabkan kerusakan pada peralatan elektronika. Seperti yang dialami oleh penulis sendiri. Komputer milik penulis pernah ‘Jebol’ lantaran arus listrik yang tiba-tiba mati dan seketika hidup kembali namun dengan lonjakan tegangan yang diatas 300 volt.
Kembali pada pokok bahasan pada tulisan ini, selama 9 hari masyarakat 7 Desa hidup tanpa adanya penerangan dari PLN sudah berapa banyak kerugian yang diderita ? Bahan dagangan masyarakat seperti es di kulkas yang menjadi rusak. Pedagang Es campur yang notabene adalah pedagang kecil yang menggantungkan hidupnya dari jualan es, tidak bisa mencari nafkah. Ibu – ibu rumah tangga yang sayur – sayurannya menjadi busuk lantaran tidak berfungsinya kulkas. Bahkan di Puskesmas Pinarik, banyak vaksin imunisasi yang menjadi rusak lantaran mesin pendingin yang tidak bisa bekerja.
Belum lagi masyarakat yang mau tidak mau harus menggunakan genset. Dengan harga minyak bensin yang Rp. 6.000,- ( enam ribu rupiah ) per liternya, bisa dibayangkan sudah berapa ratus ribu yang dikeluarkan oleh mereka ??? Bahkan mungkin kalau ditotal keseluruhan biaya yang dikeluarkan untuk membeli bensin unutk genset, mungkin sudah mencapai puluhan juta rupiah.
Kalau kita selaku pelanggan PLN menunggak dalam membayar tagihan listrik, maka pihak PLN akan langsung memberikan tindakan tegas dengan mengenakan denda bahkan pemutusan. Mereka ( pihak PLN ) tidak pernah mau tau dengan keadaan pada pelanggan, pokoknya bagi mereka, tagihan harus dibayar dan jika dalam waktu tertentu tidak dilunasi, maka eksekusi akan dilaksanakan.
Namun bagaimana dengan kejadian yang menimpa masyarakat 7 desa di Batang Lubu Sutam ini ? Apakah pihak PT PLN mau memberikan ganti rugi ? ( Apalagi ganti untung … )
ke 7 Desa tersebut adalah Desa Hutanopan, Hutabaru, Muara Malinto Baru, Pagaran Manggis, Siojo, Pasar Sabtu dan Siadam.
Sampai kapan kami harus menunggu agar listrik kembali terang ????

3 Komentar

  1. Mester said,

    23 Maret 2009 pada 18:22

    Semua partai selalu mengatakan keberhasilannya, mulai dari swasembada besar sampai penurunan harga BBM, tetapi tidak ada yang mengatakan keberhasilannya membuat listrik hidup mati, seandainya ada partai yang berani mengatakannya.

  2. Palas Mesir said,

    22 April 2009 pada 06:22

    Hidup-matinya lisrik memang sudah terlalu sering terjadi di beberapa titik wilayah Palas, khususnya di kawasan2 yang banyak pepohonannya. Saat cabang dan ranting pohon yang dekat dg kabel listrik dibiarkan tumbuh dalam waku yang lama, ranting pohon tersebut pun menyenuh kabel dan akhirnya terjadilah konslet yang menyebabkan padamnya lampu. Yang ini mungkin bisa terjadi akibat kurangnya survei & antisipasi dari pihak PLN ke kawasan tersebut.
    Penyebab lainnya bisa juga karena pelepah kelapa yang jatuh dihembus angin dan menimpa kabel.
    Memang kita tak memungkiri sulitnya dan jauhnya lokasi kerusakan lisrik/kabel/trafo/dsb, menjadi kendala bagi PLN. Namun kalau dibiarkan berlarut2 tentu itu tidak wajar juga.
    Yah… Mungkin kompuer saya dulu juga termasuk korban tidak stabilnya listrik di Ulu Barumun, tepatnya di Subulussalam.
    Dengan terpilihnya anggota DPRD Palas pada pemilu ini, semoga kejadian-kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi. Semoga mereka pro rakyat dan lebih peka terhadap kepentingan umum.
    Wassalam, salam dari Mesir.

  3. nasution said,

    22 April 2009 pada 14:43

    tak banyak yang bisa diharap dari PLN pelayanannya memang bikin kecewa pasar, perlu jadi masukan bagi bupati Palas bahwa sungai batang lubu itu cukup potensial untukbikin PLTA bendungan sudah ada tu. tapi kalau katanya banyak kulkas dan komputer yang rusak ditambah bbm mesin genset yang melambung ya bisa jadi..tapi umumnya masyarakat setempat belum punya kulkas apalagi komputer.. yang tak kalah penting bagi masyarakat.. jalan lintas ke ujung batu itu harus segera di perbaiki kalau dilihat buruknya jalan ke pinarik kayak tidak ada kantor camat disana. pantasan bapak-bapak camat batam banyak yang pindah mulu.. gak betah..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: