100 HARI KEPEMIMPINAN SOBAR TIDAK TUNJUKKAN SEMANGAT GEBRAKAN OTONOMI DAERAH

Medan, 21 Mei 2009. Para aktivis pemerhati pembangunan Padang Lawas, kabupaten yang baru berusia mendekati angka dua tahun ini terus disoroti. Sejak dilantiknya pasangan Sobar Bupati/ Wakil Bupati defenitiv pada 9 Februari 2009 yang lalu, Sobar kerap mendapat kritikan dari kaum muda yakni mahasiswa yang memandang kemajuan dari sudut pandang yang lebih substantiv dan orientativ. Kini 100 hari lebih sudah kepemimpinan Basyrah Lubis – Ali Sutan Harahap (TSO) dinilai mahasiswa belum menunjukkan semangat gebrakan otonomi daerah, sebagaimana yang dikumandangkan dalam jargon-jargon perjuangan pemekaran dulu dan arahan pemerintahan sesuai Undang-Undang Pemerintahan Daerah.
Demikian dikatakan Ketua Umum Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Padang Lawas (Gema Padang Lawas) Ansor Harahap didampingi Sekjend Ahmad Habibi Dalimunthe dan sejumlah pengurus lainnya.
“semangat perjuangan pemekaran dan tujuan dimekarkannya Padang Lawas sesuai amanah peraturan negara nyaris tidak dirasakan sama sekali semenjak kepempinan terpilih, seharusnya seiring perjalanan waktu yang lumayan cukup lama dan sudah layak dievaluasi rakyat, sampai detik ini belum ada tanda-tanda kehidupan rakyat akan turut menikmati pemekaran” ungkap Ansor.
Mereka memandang kepemimpinan pertama Padang Lawas ini seakan tidak memiliki motivasi awal yang jelas dan tujuan akhir yang bertarget dan terukur dalam memajukan Padang Lawas dari kondisi tertinggal ke yang lebih baik. Termasuk dalam peningkatan pendapatan dan menyongsong percepatan kesejahteraan rakyat. Gaya pemerintahan yang konvenional dan tradisional yang masih menjadi pemandangan yang lumrah selama ini di Padang Lawas.
“kita tidak melihat sistem kepemimpinan yang progressive, semua masih pada pola lama yakni bersifat kunjungan dan seremonial” katanya.

Visi dan Misi Belum Tersentuh
Sedangkan Visi dan Misi yang dijual pasangan ini pada saat kampanye dinilai masih sebatas konsep diatas kertas, belum terintegrasikan kepada fungsionaris Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang notabenenya juga masih dalam ketidaksempurnaan strukturnya. Visi dan misi tidak disosialisasikan lebih dekat dan difahami rakyat lebih dalam untuk memudahkan kontrol dari masyarakat Padang Lawas. Sehingga konsep kepemimpinan Sobar yang seharusnya memperhatikan dan mengacu pada visi misi dinilai masih bagai panggang jauh dari api. Padahal juga, Visi dan Misi yang diusung adalah merupakan kebutuhan dan permasalahan yang telah lama mendera rakyat selama ini yakni diantaranya tentang kecerdasan melalui pendidikan, kesejahteraan melalui peningkatan pendapatan, keadilan melalui kedisiplinan hukum dalam arti yang luas, dll.
“seharusnya dari keterbatasan anggaran, jangkauan kepemimpinan yang inovativ dan kreative sudah mulai terlihat dalam fondasi pembangunan Padang Lawas agar sinergis dengan apa yang dijanjikan dulu, bukan mentok dianggaran dan menjadikannya alasan, rakyat sudah terlalu lama pesakitan” jelasnya.
Ansor menghimbau sebaiknya pasangan Sobar meniru kepemimpinan Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah yang sukses menjalankan pemerintahan daerah pemekaran khususnya dan banyak yang bisa dicontoh dari kepemimpinan daerah baik Tk.II maupun Tk.I seperti Alex Nurdin memimpin Provinsi Sumsel.
“janganlah pula ditiru kabupaten yang stagnan dan vakum, Prof. Dr. I Gede Winasa selaku Bupati Jembrana, T. Erry Nuradi bersama Soekirman di Sergei yang masuk nominasi kabupaten terbaik tingkat nasional patut jadi inspirasi para Kepala/Wakil Kepala Daerah, termasuk Padang Lawas” terangnya.

2 Komentar

  1. safarin nasution said,

    22 Mei 2009 pada 16:43

    pembangunan padang lawas sangat ditunggu terutama oleh masyarakat kecamatan terisolir maka perlu pak bupati dan jajarannya memberikan reward dan punisment yang jelas kepada para camat sebagai pemerintah yang lebih dekat dengan rakyat dibanding bupati. kabarnya masih ada camat wilayah padang lawas yang masuk kantor hanya satu hari dalam seminggu kemudian kacabdis pendidikannya juga begitu akibatnya urusan rakyat jadi terkendala. saya masih ingat sewaktu pak bupati dan wakil bupati dulu dilantik gubernur sumatera utara walaupun dengan guyon ia bilang “kalian do’akanlah bupati dan wakil bupati palas ini agar aman duduk dikursi jabatannnya apabila mereka memajukan rakyat tapi sebaliknya kalau mereka tidak bisa mengemban amanah dengan baik do’akan kalianlah supaya mereka turun dari jabatannya karena jabatan mereka akan membuat mereka lebih banyak celaka daripada baiknya”. sekarang sepenuh hati gak bapak-bapak membangun palas kalau tidak kembalikan lagi palas pada rakyat karena pemekarannya dulu hasil kerja rakyat..

  2. ucok parkusip said,

    8 Juni 2009 pada 15:00

    Imada sugari bisa copat mada dirasoi akka masyarakat tano palas keuntungan ni pemekaran on, anggo na letlet songoni do inda adong perkembangan na dirasoi masyarakat, maka sia-sia mada perjuangan pemekaran i…. copat mada dipasarkon SDA na adong di palas anso marroan investor, dengan demikian pelan2 tingkat kesejahteraan masyarakat ni palas akan semakin baik… memang ndak bisa cepat seperti membalik telapak tangan… tapi kalau belum dimulai kapan akan dimulai kawan ????


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: