About

This is an example of a WordPress page, you could edit this to put information about yourself or your site so readers know where you are coming from. You can create as many pages like this one or sub-pages as you like and manage all of your content inside of WordPress.

2 Komentar

  1. forumpadanglawas said,

    9 Desember 2008 pada 09:20

    WELL COME TO SITE PADANG LAWAS

  2. 19 April 2009 pada 21:35

    Saya mengemukakan rasa kecewa pada hasil pemilihan legislastif 2009, bukan kekecewaan seperti dialami kebanyakan elit politik sekarang ini yang tengah membuat semakin puyeng sebagian besar masyarakat kita karena berita-berita kebisingan mereka yang mempertanyakan kinerja KPU, dibalik ketidaksiapan mereka atas perolehan suara partainya yang kalah. Mereka bingung mempermasalahkan DPT misalnya, seolah-olah tidak mengerti bahwa DPT itu berasal dari Kepala Daerah yang tiada lain adalah para kader mereka yang diusung oleh partainya sendiri dan dipilih secara langsung dalam proses Pilkada..

    Kebetulan saya memang tidak memiliki urusan apapun terhadap sebuah partai Saya bukan pengurus dan anggota sebuah partai. Saya juga bukan caleg dan simpatisan sebuah partai. Saya hanyalah warga negara biasa yang kecewa karena telah berulang-ulang melihat hasil pemilihan legislastif dari masa ke masa ternyata hanya begitu-begitu saja dan masih beputar di sekitar orientasi materialisme, dimana segalanya selalu menempatkan materi sebagai satu-satunya perantara mencapai ambisi dalam bentuk-bentuk hitungan untung rugi secara ekonomi.

    Saya juga kecewa karena kini banyak partai politik meminta Pemilihan Legislatif 2009 diulang tanpa memperdulikan partai-partainya itu yang sebenarnya telah mengalami pendangkalan motivasi yang membuat semua tujuan mulianya menjadi rusak. Institusinya rata-rata telah gagal memperlihatkan diri sebagai partai yang dapat membentuk para kadernya selalu siap dan tangguh menghadapi berbagai situasi kompetisi. Kader yang rapuh secara militansi dan bahkan mudah stres sebagai akibat pembinaan yang buruk. Padahal partai politik dimanapun sejatinya selalu siap dihadapkan pada kenyataan dituntut untuk menjadikan organisasinya handal dan mampu menjaga citranya dalam mempersembahkan para kader yang hebat, tangguh dan sanggup berkiprah secara baik.

    Pembinaan yang buruk juga tampak terlihat pada kader partai yang umumnya dalam mencapai tujuannya tidak lagi memakai nilai-nilai ketulusan dan kerja keras secara murni sebagai hal utama untuk meraih keberhasilan. Praktek perjuangannya juga menjadi semakin sederhana; membagikan uang sebanyak-banyaknya. Sebatas hanya mempertaruhkan ratusan juta hingga milyaran rupiah untuk membeli suara atas nama do’a restu dan dukungan.

    Sangat disayangkan telah banyak terjadi praktik politik uang yang memang sulit untuk dipungkiri Tidak diragukan, inilah yang menjadi biang keladi korupsi selama ini. Inilah yang membentuk dan melahirkan penyalahgunaan kewenangan dan penyimpangan secara systematis berkat latarbelakang perjuangan yang kering dari nilai-nilai kejujuran dan ketulusan. Mereka meracuni kesucian jabatan, ketika jabatan dipandang dalam ruang kenikmatan semata yang senantiasa akan memabukan dan membawa terbang jauh melampaui batas-batas etika.

    Jika demikian, apa yang dapat diharapkan dari orang-orang yang sudah terkooptasi oleh materialisme itu. Apakah memilih mereka akan mampu memperjuangkan dan mewujudkan kehidupan masyarakat menjadi lebih baik ataukah hanya sebatas mengantarkan mereka memiliki jabatan untuk dinikmati dan digunakan sesukanya seolah-olah mereka terlahir hanya untuk itu?.

    Mereka yang menang, prilakunya banyak yang mirip menang lotre ketimbang prilaku orang-orang yang khauf (takut) pada amanah rakyat. Dalam konteks ini, banyak kader partai yang berhasil menjadi anggota legislative terkesan tidak ubahnya mendapatkan hadiah lotre dari sebuah ketangkasan otak. Meski tidak sampai berjingkrak dan bersorak melampiaskan kegembiraannya secara berlebihan, namun sebagian dari mereka harus mengkalkulasi modal yang sudah dikeluarkan, berapa harta kekayaan yang sudah dikorbankan dan digadaikan, lalu memastikan berapa harus mengembalikan modal dan membayar hutang-hutang, sebelum akhirnya akan memanfaatkan dan mencari keuntungan yang lebih besar tanpa perlu peduli sekalipun harus menempuh berbagai cara yang haram.

    Bersamaan dengan itu, diantara mereka yang kalah menjadi merasa dipermainkan oleh keinginan lebih tinggi meraih suatu profesi yang diketahuinya hanya akan mendatangkan keuntungan yang sejumlah uang yang lebih dari cukup untuk sekedar mengembalikan modal yang dipertaruhkan saat kampanye, orientasi materialisme ini ternyata juga menyebabkan banyak caleg yang kemudian stres akibat beban psikologis ketika dikurung perasaan cemas, bangkrut dan malu atas pencalonannya yang kandas diluar kemampuannya.

    Fenomena caleg stress yang tak terhidtung jumlahnya itu merupakan tanggung jawab para pengurus partai yang tidak memiliki kemampuan dalam mengantispasi citra buruk yang bisa merusak organisasinya. Pengurus partai harus mau terus mengkaji system rekrutmen dan kaderisasi yang dalam kebanyakan di tubuh partai politik di negeri ini memang belum menemukan bentuknya yang baik. Memperbaiki mekanisme rekrutmennya yang masih bersifat asal pungut, asal mau, asal punya duit dan dangkal sebatas hanya untuk keperluan negosiasi dalam jual beli nomor urut pencalonan dan promosi kader yang diusungnya.

    Nilai-nilai kehormatan suatu jabatan dan kekayaan memang sudah biasa menjadi ukuran baik atau buruknya status sosial di masyarakat kita. Tetapi, saat ini tidakkah mereka berfikir bahwa menjadi seseorang yang bekerja secara independent hingga bercucuran keringat masih lebih baik untuk mengabdi kepada bangsa dan Negara, daripada harus menjadi anggota legislative yang mengakibatkan orang sering kehilangan akal sehatnya karena lupa pada ajaran luhur; bahwa manusia yang baik di hadapan Tuhannya adalah manusia yang ditinggikan derajatnya oleh Nya, bukan oleh jabatan dan materi.

    Lagipula, bukankah segala sesuatu tentang jabatan masih selalu bersifat relative. Dalam satu fenomena, bisa jadi wajar jika menjadi anggota legislative adalah hal yang bisa dibanggakan. Sementara sekarang dalam pandangan zaman yang berbeda sudah terlihat jelas betapa jabatan anggota legislatif itu sudah dijadikan sebagai bahan obrolan-obrolan lucu, sindirin-sindirin karikatur, dan menjadi thema-thema parodi yang menyedihkan serta sekaligus menggelikan. Semua ini terjadi secara penuh ekspresif tergantung persepsi masyarakat pada saat menangkap dan memperhatikan fenomenanya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: